Aku adalah Wanita Jawa




Aku adalah wanita Jawa. Namun, feodalisme Jawa semasa Kartini tidak sepenuhnya hilang.

Ketika yang lebih muda harus berbicara jawa kromo kepada yang lebih tua, dan yang tua menjawab dengan bahasa jawa kasar kepada yang muda. Ketika yang muda duduk di atas kursi sedangkan yang tua lewat, maka yang muda haruslah turun dari kursi dan menunduk sampai yang tua hilang dari pandangan. Ketika yang muda harus memberi sembah kepada yang tua saat hendak berbicara. Ketika yang tua haus akan kehormatan dari yang muda. Dan, kepala ! Kepala adalah hal sakral bagi orang jawa, dan tidak ada yang boleh menyentuh kepala seorang jawa kecuali dengan se-izinnya. Hal-hal inilah yang disebut dengan feodalisme.

Feodalisme yang terjadi di dalam keluargaku memang tidak separah ini, namun masih ada. Tidak kaku seperti zaman abad, pun tidak benar-benar hilang dari adatnya. Aku sebagai yang muda, harus menghormati yang tua. Duduk sama tinggi dengan yang tua sudah menjadi suatu keharusan, yang kadang aku benci saja melakukannya. Ketika pertama kalinya aku memiliki seorang adik, aku pun berpikir akan ku buat seperti apa sikap adikku seharusnya padaku. Haruskah aku menjadi gila hormat seperti “yang tua” kebanyakan ?
Faktanya, aku menempatkan diriku sebagai teman untuk adikku. Oleh karenanya, tak jarang kami yang memiliki jurang usia tujuh tahun masih sering berkelahi seperti layaknya Tom and Jerry. Aku berfikir kemudian, jika sikap feodalisme yang diagungkan sebagian orang dari kalanganku itu tetap ku pertahankan, apa jadinya aku dan adikku? Di zaman ini, aku hanya akan membangun jurang yang sangat besar bagi dua bersaudara ini.

Aku wanita Jawa dan aku dengan berani mengelilingi hampir sebagian Indonesia ini sendirian.

Peran perempuan di zaman Kartini sangat terbatas. Anak gadis berumur dua belas tahun harus kehilangan keceriaannya dan terkurung di antara tembok-tembok yang memiisahkan dunianya dan dunia luar. Pingitan, begitu mereka menyebutnya. Hal ini sudah menjadi suatu keharusan, adat yang harus dilakukan oleh kebanyakan keluarga Jawa pada masanya. Hingga saatnya datang, sang gadis diselamatkan. Dalam hal ini dikeluarkan dari sangkar emasnya untuk dipersunting dengan laki-laki yang bahkan tidak dia kenal sama sekali.

Lalu aku bertemu dengan beberapa wanita dalam perjalananku. Kami berbagi cerita satu sama lain, perempuan yang kutemui ini berpendidikan tinggi. Tetapi cara berpikirnya sangat sempit. Mengapa aku berkata demikian ? Aku menanyakan apa cita-citanya kelak ? Dan dengan enteng dia menjawab bahwa ia ingin menikah dan berbakti kepada suaminya kelak. Hanya itu. Jujur saja, aku tak dapat menahan rasa amarahku. Ingin rasanya aku memukuli dia karena cara berpikirnya yang kuno. Perempuan berpendidikan tinggi tidak untuk “hanya berbakti pada suami”. Jika memang mutlak itulah tugas perempuan, maka aku lebih baik tidak menikah !

Ini bukan zamannya lagi, menyerahkan kehidupanmu untuk lelaki yang kau cintai. Bukan zamannya lagi ! Jika kau masih berpikiran demikian, maka silahkan kembali  hidup di zaman sebelum Kartini lahir. Untuk apa Kartini memperjuangkan emansipasi wanita jika pada akhirnya generasi yang ia perjuangkan haknya mau kembali kepada masa keterpurukan perempuan? 

Aku hanya tidak habis pikir. Mengapa pikiran seperti ini dipupuk dengan suburnya oleh perempuan-perempuan yang menyerah pada laki-laki saja ? Sangat disayangkan sekali. Padahal, kontribusi perempuan di dunia  ini sangat dibutuhkan. Karena pada zaman ini, banyak laki-laki yang tidak becus menjalankan kewajibannya sebagai seorang laki-laki. Oleh karena itu, perempuan seharusnya berpikiran maju. Tidak berdosa kok, jikalau seorang perempuan memiliki keinginan untuk menguasai dunia. Tidak berdosa pula, jikalau seorang perempuan memiliki keinginan untuk menjadi seorang pemimpin. 

Tempat seorang perempuan, tidak hanya di dapur dan di ketek suami saja. Lihat menteri-menteri negeri ini. Kita memililki Ibu Susi yang dengan gagah beraninya melawan para bajak laut. Kita pula memiliki Ibu Sri Mulyani yang mengatur keuangan negeri ini. Siapa lagi ? Siapa lagi selanjutnya? Tidak inginkah kita menjadi seperti mereka ? Menjadi salah satu jajaran perempuan hebat sepanjang masa ? 

Betapa ironisnya hidup ini saudara perempuanku. Mengapa kita masih saja harus tunduk pada laki-laki ? Ayo maju ! Bangun negeri ini ! 

Negeri ini masih membutuhkan tangan-tanganmu wahai para perempuan Indonesia !

Komentar