Bagaimana J. I. K. A . . .
Rata-rata penduduk
Indonesia menikah pada umur 24-26 tahun, baik laki-laki maupun perempuan, khususnya perempuan.
Banyak diantara teman-teman facebook
yang telah menikah kerap kali mem-post
foto-foto mereka. Dari foto prewed,
foto pernikahan, bahkan foto anaknya ketika telah lahir sembilan bulan
kemudian. Sejujurnya, saya tidak tahu apa maksud dan tujuan teman-teman saya
yang budiman tersebut. Baiklah, kita asumsikan mereka sedang membagi
kebahagiaan yang mereka dapatkan. Pertanyaan selanjutnya muncul.
Benarkah menikah
membawa kebahagiaan ?
Bagi laki-laki mungkin
iya, jelas sekali. Setelah
menikah, secara otomatis mereka memiliki orang lain yang bisa disuruh-suruh
secara gratis. Bahkan mereka seperti memiliki pembantu pribadi, dari mencucikan
pakaian, menyiapkan makanan, hingga mengurus segala sesuatu keperluan bagi si
laki-laki. Sedangkan bagi kaum hawa ? Apakah sebahagia itu ?
Tidak sedikit para ibu baru yang lelang setelah seharian mengurus keperluan rumah tangganya. Sementara suaminya diluar sana sedang asyik bercengkrama dengan perempuan lain yang lebih cantik dan energik.
Apa yang kalian rasakan wahai para ibu
muda? Apakah cukup menjadi
seorang ibu rumah tangga ?
Bagi sebagian
perempuan, mereka cenderung berpikir ‘Ah, aku akan mengabdi untuk suamiku.
Mengurus segala keperluannya. Tidak apa aku kehilangan impianku. Aku ingin
menjadi ibu rumah tangga’. Pertanyaan lagi.
Bagaimana jika suami
ibu-ibu sekalian selingkuh ? Sehingga memaksa ibu-ibu sekalian bercerai ?
Ah, mungkin cara berpikir
seperti ini terlalu kolot dan terlalu negatif. Sebagian laki-laki berkata ‘Saya
akan setia’, sebagian lagi berkata ‘Saya tidak akan pernah melakukan hal kotor
tersebut’. Pertanyaan saya ajukan kembali.
Bagaimana jika suami
ibu-ibu sekalian meninggal ?
Apakah masih ada elakan
‘Saya tidak akan mati’ ? Tidak ! Hal-hal seperti ini adalah suatu masa depan
yang kita tidak tahu akan berakhir bagaimana. Setelah menikah, kemungkinannya
hanya tiga bercerai hidup, bercerai mati dan bahagia sampai kakek-nenek. Tentunya,
kita semua mengharapkan kemungkinan yang ketiga. Namun bagaimana jika
seburuk-buruknya kemungkinan adalah salah satu dari kedua kemungkinan pertama ?
Bagaimana nasib para ibu muda yang
memilih menjadi ibu rumah tangga ?
Apa sebenarnya yang
memaksa seorang perempuan menjadi ibu rumah tangga ?
Baik, mari kita
perhatikan pasangan-pasangan yang telah menikah. Mari kita perhatikan kedua
orang tua kita yang telah bertahun-tahun menikah. Apa yang terjadi dengan ibu ?
Para ibu memiliki pekerjaan yang ekstra berat, yaitu mengurus keperluan rumah
dari pagi hingga malam. Mulai mencuci pakaian suami dan anak-anak, memasak,
mencuci piring, menyetrika pakaian, membersihkan rumah, menjaga rumah tetap
rapih, dan lain sebagainya. Para ibu rumah tangga dituntut untuk menghormati
suaminya dan melayani suaminya bak seorang raja. Apa ini ? Feodalisme lagi kah
?
Apakah menikah yang di
elu-elu kan sebagai pembawa kebahagiaan malah membuat seorang perempuan
kehilangan impiannya selama-lamanya ?
Pernah saya temukan
sebuah kutipan “Perempuan harus
benar-benar selesai dengan dirinya ketika telah memutuskan untuk menikah”. Kurang
lebih kalimatnya berbunyi seperti itu. Apakah ini artinya seorang perempuan
harus membunuh setiap keinginannya untuk maju dan bermimpi tinggi demi menjadi seorang
ibu yang baik ? Bagaimana jika pengorbanannya dikhianati oleh suaminya ?
Bagaimana jika sang suami malah asyik mencari perempuan lain diluar sana ?
Nasib para perempuan yang telah menikah itu telah hancur. Nasib mereka tidak
lebih baik daripada seorang pengemis.
Seorang perempuan yang
terlahir didunia ini, memiliki hak yang sama dengan laki-laki untuk mengenyam
pendidikan yang setara. Bahkan pada prakteknya, kebanyakan pemegang juara kelas
adalah perempuan. Hal ini membuktikan bahwa perempuan bisa melakukan hal yang
lebih baik dibandingkan laki-laki. Setelah pendidikan, seseorang pasti memiliki
impian.
Lalu, apakah impian perempuan yang tadi harus di rebut paksa oleh label baik yang dinamakan pernikahan ?
Tidak, wahai saudara
perempuanku. Perempuan seperti kita ini wajib memiliki mimpi. Perempuan seperti
kita ini harus berkarya untuk negeri ini. Lihatlah negeri ini saudaraku, negeri
ini masih membutuhkan banyak sekali uluran tanganmu. Negeri ini membutuhkan
pola pikir dan cara pandang seorang perempuan untuk mengatur, membangun dan
memajukan negeri ini. Perempuan seperti kita tidak harus berlindung dibawah
ketiak suami dengan mengagungkan label
pernikahan itu. Kita harus maju.
Setidaknya, kita harus
memiliki pekerjaan tetap. Agar supaya ketika kita bertemu laki-laki bajingan
yang hanya meninggalkan luka dan menggoreskan pahitnya kehidupan. Kita sebagai
perempuan masih bisa berdiri tegak membesarkan anak-anak kita menjadi sosok
generasi muda yang lebih baik. Agar perempuan seperti kita ini, tidak diremehkan
dan dipandang sebelah mata oleh para laki-laki itu. Mungkin menghapuskan
feodalisme antara suami dan istri sulit untuk dilakukan. Namun, para perempuan
masih bisa melakukan sesuatu agar dihargai pula oleh yang laki-laki yaitu
dengan bekerja ! Memiliki penghasilan pribadi !
Oleh karenanya,
berhentilah memuja dan memuji pengabdian pada suami. Berhentilah memuja kesetiaan.
Berhentilah memuja semua omong kosong itu. Karena hidup itu tidak selamanya
manis. Karena kita harus bersiap dengan datangnya kemungkinan terburuk.
Jadilah perempuan cerdas !
Komentar
Posting Komentar